Hadapi Puncak Liburan, 34 Pesawat Garuda–Citilink Masih ‘Grounded’
Sebanyak 34 pesawat tidak bisa terbang (grounded) hingga saat ini. Puluhan pesawat tersebut termasuk milik anak usaha Garuda, yakni maskapai Citilink. Foto CNN--
RADARLAMBAR.BACAKORAN.CO – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk masih menghadapi persoalan ketersediaan armada menjelang musim puncak perjalanan akhir tahun. Hingga saat ini, sebanyak 34 pesawat Garuda dan Citilink belum dapat beroperasi atau berstatus grounded. Jumlah tersebut mencerminkan tekanan berkelanjutan terhadap pemulihan operasional maskapai pelat merah tersebut, di tengah lonjakan permintaan perjalanan udara pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Wakil Direktur Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, mengungkapkan bahwa perseroan baru mampu mengoperasikan 58 unit dari total 72 pesawat yang dimiliki. Namun, ia enggan merinci detail kondisi teknis ataupun rencana final penanganan terhadap puluhan pesawat yang belum dapat diterbangkan tersebut.
“Itu kurang lebih 34 pesawat yang masih grounded,” ujarnya dalam Public Expose, Kamis (27/11). Ia menambahkan bahwa Garuda berupaya memastikan sebagian besar armada dapat aktif pada Desember untuk mengantisipasi tingginya mobilitas masyarakat.
Direktur Teknis Garuda Indonesia, Mukhtaris, menerangkan bahwa Citilink—sebagai anak usaha yang melayani penerbangan berbiaya rendah—saat ini mengoperasikan 31 pesawat. Jumlah itu masih jauh dari total armada Citilink yang mencapai 56 pesawat, terdiri dari 49 Airbus A320neo dan tujuh pesawat turboprop ATR.
“Per awal Desember ini Citilink sendiri sudah menerbangkan kurang lebih 31 pesawat dari total 56 pesawat,” jelasnya.
Untuk menghadapi tingginya permintaan selama peak season, Citilink menargetkan dapat meningkatkan pesawat beroperasi menjadi 38 unit. Penambahan tersebut diharapkan mampu memperbesar kapasitas rute domestik maupun feeder yang menjadi tulang punggung jaringan Citilink.
Di sisi lain, Garuda Indonesia disebut akan mempertahankan operasional pada 58 pesawat dari total 72 unit yang dimiliki. Maskapai berupaya menstabilkan utilisasi armada setelah melewati masa restrukturisasi dan perbaikan intensif pada sejumlah pesawat.
Hingga saat ini, manajemen belum memerinci penyebab utama mengapa sejumlah pesawat belum dapat beroperasi—apakah akibat perawatan berat, keterlambatan suku cadang, atau pertimbangan efisiensi pascarestrukturisasi utang. Namun, peningkatan permintaan selama liburan dipastikan menuntut percepatan pemulihan armada.
Kondisi Garuda dan Citilink menggambarkan tantangan yang masih membayangi industri penerbangan nasional: permintaan yang pulih cepat tidak diimbangi kekuatan armada yang sepenuhnya siap terbang. Keterbatasan suku cadang global, harga sewa pesawat yang meningkat, hingga biaya perawatan yang naik menjadi faktor yang menghantui operator penerbangan di seluruh dunia.
Dalam konteks domestik, situasi ini berpotensi memengaruhi keterjangkauan harga tiket pesawat, yang secara konsisten menjadi sorotan publik setiap kali musim liburan tiba.
Meski demikian, Garuda Indonesia memastikan bahwa seluruh langkah percepatan perawatan armada terus dilakukan agar layanan dapat berjalan optimal. Maskapai pelat merah itu berharap tingkat operasional yang lebih tinggi pada Desember dapat mendukung kelancaran arus perjalanan udara nasional. (*)