Sejumlah Negara Ramai-Ramai Batasi DeepSeek, AI China Disebut Berisiko Bocorkan Data

Ilustrasi. Negara-negara mulai melarang aplikasi AI China, DeepSeek, yang dianggap meniru teknologi OpenAI. Kekhawatiran muncul terkait privasi dan keamanan data pengguna. Foto: iStock--

RADARLAMBAR.BACAKORAN.CO – Sejumlah negara mulai mengambil langkah tegas terhadap aplikasi kecerdasan buatan (AI) asal China, DeepSeek, menyusul meningkatnya kekhawatiran terkait keamanan data dan perlindungan privasi pengguna. Aplikasi yang diklaim mampu menyaingi ChatGPT dengan biaya pengembangan lebih murah itu kini menjadi sorotan global dan menghadapi pembatasan hingga pelarangan di berbagai negara.

DeepSeek sempat menghebohkan dunia teknologi setelah kemampuannya disebut mendekati model AI buatan perusahaan Amerika Serikat. Namun di balik popularitas tersebut, muncul tudingan bahwa startup AI China itu meniru teknologi OpenAI. Isu ini kemudian memicu kewaspadaan sejumlah pemerintah, terutama terkait pengelolaan dan penyimpanan data pengguna.

Kekhawatiran utama mencuat setelah kebijakan privasi DeepSeek menyebutkan bahwa berbagai data pengguna, mulai dari perintah ke sistem AI hingga file yang diunggah, disimpan di server yang berada di China. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai potensi akses data oleh otoritas setempat serta risiko kebocoran informasi sensitif.

Australia menjadi salah satu negara yang mengambil langkah cepat dengan melarang penggunaan DeepSeek di seluruh perangkat pemerintah sejak Februari 2025 karena dinilai berpotensi mengancam keamanan nasional. Langkah serupa juga diambil Republik Ceko yang melarang administrasi publik menggunakan layanan DeepSeek dengan alasan perlindungan data.

Di Eropa, respons terhadap DeepSeek terus menguat. Otoritas perlindungan data Prancis melakukan pendalaman terkait cara kerja sistem AI tersebut dan potensi risikonya terhadap privasi pengguna. Jerman bahkan meminta Apple dan Google menghapus DeepSeek dari toko aplikasi setelah muncul kekhawatiran serius terkait keamanan data. Italia dan Belanda juga melakukan pembatasan serta penyelidikan karena menilai transparansi penggunaan data DeepSeek masih lemah.

Di kawasan Asia, India meminta pegawai pemerintah menghindari penggunaan DeepSeek untuk kepentingan resmi guna menjaga kerahasiaan dokumen negara. Korea Selatan sempat menghentikan unduhan baru aplikasi tersebut setelah perusahaan mengakui belum sepenuhnya mematuhi aturan perlindungan data pribadi. Taiwan pun melarang penggunaan DeepSeek di lembaga pemerintah karena dianggap berisiko terhadap keamanan nasional.

Sementara itu, Amerika Serikat tengah mempertimbangkan langkah lanjutan, termasuk pembatasan akses teknologi dan potensi sanksi, karena DeepSeek dinilai berpotensi membantu kepentingan strategis China. Berbeda dengan negara-negara tersebut, Rusia justru membuka peluang kerja sama pengembangan AI bersama China.

 

Langkah berbagai negara membatasi DeepSeek menunjukkan bahwa persaingan teknologi AI global kini tidak hanya berkaitan dengan inovasi, tetapi juga menyentuh isu keamanan data, geopolitik, dan kedaulatan digital.(*)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan