Teror Beruang Madu di Bangkunat Mereda
Kondisi kandang jebak beruang madu di Bangkunat tidak terdapat tanda kerusakan situasi teror beruang madu di pekon sukamarga berangsur kondusif. Foto Dok --
BANGKUNAT - Situasi konflik antara manusia dan satwa liar berupa beruang madu di wilayah Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar), yang sempat meresahkan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir, kini dilaporkan berangsur kondusif. Setelah sempat terjadi serangkaian gangguan terhadap ternak warga, khususnya di Pekon Sukamarga, tepatnya di wilayah Talang Bangkok, keberadaan beruang madu itu sudah tidak lagi terpantau di sekitar permukiman dan kebun warga.
Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesbar, Dadang Trianahadi, S.P., M.M., mengatakan berdasarkan pemantauan intensif yang dilakukan petugas kehutanan bersama pihak terkait, dalam kurun waktu sekitar dua pekan terakhir tidak ditemukan adanya tanda-tanda keberadaan maupun aktivitas beruang madu di sekitar lokasi konflik.
“Dalam dua pekan terakhir ini, situasi di sekitar Talang Bangkok, Pekon Sukamarga, terpantau cukup kondusif. Tidak ditemukan lagi jejak, tanda kehadiran, atau aktivitas beruang madu di sekitar permukiman dan kebun warga. Kami menduga satwa itu sudah kembali masuk ke kawasan hutan atau habitat alaminya,” katanya, Selasa, 3 Februari 2026.
Dijelaskannya, kondisi itu juga diperkuat oleh hasil pengawasan rutin terhadap kandang jebak beruang madu yang dipasang sebagai bagian dari upaya mitigasi konflik satwa liar. Kandang jebak tersebut dipasang pada 21 Januari 2026 di wilayah Talang Bangkok, Pekon Sukamarga, setelah sebelumnya dilaporkan terjadi kerusakan kandang ternak termasuk adanya kambing milik warga yang diduga kuat akibat serangan beruang madu.
“Hasil pemantauan kandang jebak sejak dipasang sampai saat ini menunjukkan bahwa kondisinya masih sama seperti awal pemasangan. Tidak ada kerusakan, tidak ada perubahan posisi, dan beruang madu juga belum memasuki area kandang jebak,” jelasnya.
Dikatakannya, berdasarkan observasi di sekitar lokasi kandang jebak, petugas juga tidak menemukan adanya tanda-tanda baru yang mengindikasikan kehadiran beruang madu, baik berupa jejak kaki, bekas cakaran, maupun tanda aktivitas lainnya. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa beruang madu yang sebelumnya kerap muncul di sekitar permukiman warga telah menjauh dari area tersebut.
“Hasil observasi di lapangan menunjukkan tidak ada tanda-tanda kehadiran beruang madu di sekitar kandang jebak maupun di lokasi-lokasi yang sebelumnya dilaporkan rawan konflik. Sampai saat ini, beruang madu terpantau belum memasuki kandang jebak,” katanya.
Masih kata dia, pihaknya juga memastikan bahwa kondisi umpan berupa kambing yang ditempatkan di dalam kandang jebak berada dalam keadaan aman dan sehat. Petugas secara berkala melakukan pengecekan untuk memastikan kesejahteraan hewan umpan serta memastikan kandang jebak tetap berfungsi sesuai dengan standar keselamatan.
“Kondisi umpan di dalam kandang dipastikan masih aman dan sehat. Kami tetap melakukan pengecekan rutin untuk memastikan tidak ada hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah, baik bagi hewan umpan maupun lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ditambahkannya, meskipun kondisi saat ini terpantau kondusif, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Warga diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi pemilik ternak, dengan memperkuat kandang dan menghindari meninggalkan ternak di lokasi terbuka yang berpotensi menarik perhatian satwa liar.
“Kondisi memang sudah berangsur kondusif, tapi kami tetap ingatkan masyarakat agar selalu waspada. Jangan sampai ketika situasi sudah mulai aman, kewaspadaan justru menurun. Pencegahan tetap menjadi kunci utama agar konflik serupa tidak terulang,” pungkasnya. (yayan/*)