LAUNCHING TERPUSAT DI LIWA, Kekuhan Menggema Serentak di 15 Kecamatan
Bupati Lambar, Parosil Mabsus resmi melaunching Kekuhan (Kentongan Bambu) sebagai sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal. Presmian berlangsung di SMPN 1 Liwa kemarin--
RADARLAMBAR.BACAKORAN.CO – Pemerintah Kabupaten Lampung Barat resmi melaunching Kekuhan (kentongan bambu) sebagai sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal, Kamis, 12 Februari 2026. Peresmian dipusatkan di SMPN 1 Liwa, sementara satuan pendidikan di seluruh kecamatan mengikuti kegiatan secara virtual dari lokasi masing-masing.
Pemukulan Kekuhan oleh Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus didampingi Wakil Bupati Mad Hasnurin menjadi penanda dihidupkannya kembali alat komunikasi tradisional yang kini difungsikan sebagai alarm darurat bencana. Peluncuran ini sekaligus menegaskan komitmen daerah dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam.
Bupati Parosil Mabsus menegaskan, penetapan Kekuhan sebagai sistem peringatan dini bukan sekadar simbol budaya, tetapi memiliki nilai strategis bagi masyarakat Lampung Barat yang berada di wilayah rawan bencana.
“Sebelum berkembangnya zaman, Kekuhan merupakan alarm masyarakat yang memberi atau menyampaikan berita penting, termasuk penanda waktu ibadah. Hari ini fungsi itu kita kuatkan kembali sebagai media komunikasi darurat,” ujar Parosil.
Menurutnya, kentongan bambu memiliki keunggulan karena dapat digunakan dalam kondisi apa pun, termasuk saat listrik padam maupun jaringan komunikasi terganggu akibat bencana.
“Lampung Barat merupakan daerah rawan bencana. Kekuhan bisa menjadi alat komunikasi cepat untuk memberi peringatan kepada masyarakat dengan harapan dapat meminimalisir korban jiwa,” tegasnya.
Pelaksanaan launching di tingkat kecamatan dipusatkan di satu sekolah yang ditunjuk sebagai lokasi kegiatan virtual. Di Kecamatan Waytenong, kegiatan berlangsung di SMPN 1 Waytenong, sementara di Kecamatan Sekincau dipusatkan di SMPN 1 Sekincau.
Kepala SMPN 1 Waytenong, Nazaruddin, menjelaskan bahwa kegiatan virtual tersebut diikuti perwakilan siswa dan guru dari berbagai sekolah di wilayahnya. Suasana berlangsung meriah dengan antusiasme peserta.
“Kami sangat mendukung program ini karena menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan kesiapsiagaan bencana. Harapannya, Kekuhan mampu mempererat persatuan dan semangat gotong royong,” ujar Nazaruddin.
Hal senada disampaikan Kepala SMPN 1 Sekincau, Imam Syafi’i. Ia menuturkan, sebelum mengikuti launching virtual, peserta terlebih dahulu menggelar doa bersama sebagai bentuk harapan agar program berjalan membawa manfaat bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar seremonial. Dahulu kentongan menjadi alat komunikasi penting. Meski sekarang era modern, menjaga budaya tetap menjadi tanggung jawab kita,” ungkap Imam Syafi’i.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Lampung Barat, Padang Priyo Utomo, menjelaskan bahwa Kekuhan telah dilengkapi standar pola ketukan sebagai kode komunikasi darurat yang berlaku di tengah masyarakat.
“Ada tujuh pola ketukan yang telah disepakati. Standarisasi ini penting agar masyarakat tidak salah memahami sinyal peringatan yang disampaikan melalui Kekuhan,” jelas Padang Priyo Utomo.
Selain sebagai alarm bencana, pola ketukan juga berfungsi sebagai penanda situasi sosial kemasyarakatan, seperti tanda kemalingan, kebakaran, hingga panggilan gotong royong.