HARGA DAMAR PESBAR STABIL, Pemkab Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah
Kabid Perkebunan DKPP Pesbar Zulfikardo--
PESISIR TENGAH - Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar) melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat mencatat harga komoditas getah damar di wilayah itu masih bertahan pada kisaran Rp32 ribu hingga Rp33 ribu per kilogram hingga Selasa, 3 Maret 2026. Stabilnya harga komoditas unggulan ekspor itu dinilai menjadi kabar baik bagi para petani damar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Kepala Bidang Perkebunan DKPP Pesbar, Zulfikardo, menjelaskan bahwa hingga kini belum terlihat adanya dampak langsung dari konflik di kawasan Timur Tengah terhadap harga maupun distribusi getah damar asal Pesbar. Padahal, selama ini sebagian besar komoditas damar dari daerah tersebut diekspor ke sejumlah negara di kawasan tersebut yang menjadi pasar utama.
“Untuk saat ini harga damar masih relatif stabil di angka Rp32 ribu sampai Rp33 ribu per kilogram, dan belum ada gejolak yang signifikan. Kami juga belum melihat adanya gangguan distribusi dan permintaan dari pasar ekspor,” katanya.
Menurutnya, getah damar merupakan salah satu komoditas perkebunan andalan Kabupaten Pesbar yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat, khususnya petani di wilayah pesisir. Komoditas ini telah lama menjadi produk ekspor yang dipasarkan ke berbagai negara, termasuk di kawasan Timur Tengah, untuk kebutuhan industri seperti bahan baku vernis, kosmetik, hingga farmasi.
Meski demikian, Zulfikardo mengingatkan bahwa dinamika geopolitik global, khususnya konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah, berpotensi memengaruhi arus perdagangan internasional, termasuk komoditas ekspor dari Indonesia. Ketegangan yang belum mereda tersebut dapat berdampak pada jalur distribusi, biaya logistik, hingga permintaan pasar di negara tujuan ekspor.
“Memang saat ini belum terasa dampaknya, tetapi jika konflik terus berlanjut atau bahkan meningkat, tentu akan ada potensi pengaruh terhadap perdagangan global, termasuk ekspor damar dari Pesbar. Apalagi sebagian pasar kita berada di kawasan tersebut,” jelasnya.
Dikatakannya, ketidakpastian kondisi geopolitik biasanya akan berdampak pada fluktuasi harga komoditas ekspor, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, gangguan distribusi dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman, sementara kondisi ekonomi negara tujuan yang terganggu dapat menurunkan daya beli atau permintaan terhadap komoditas tertentu.
Namun demikian, pihaknya tetap berharap dampak tersebut tidak terlalu signifikan terhadap harga damar di tingkat petani. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga dan distribusi komoditas tersebut, serta berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
“Kami berharap, meskipun nanti ada pengaruh dari kondisi global, dampaknya tidak terlalu besar, terutama terhadap harga di tingkat petani. Karena yang paling penting adalah menjaga stabilitas pendapatan masyarakat yang bergantung pada komoditas ini,” katanya.
Ditambahkannya bahwa Pemkab Pesbar juga mendorong diversifikasi pasar ekspor sebagai langkah antisipatif terhadap ketergantungan pada satu kawasan tertentu. Dengan memperluas jaringan pasar, diharapkan risiko yang ditimbulkan akibat konflik di satu wilayah dapat diminimalkan. Selain itu, peningkatan kualitas produk dan efisiensi rantai distribusi juga menjadi fokus pemerintah daerah guna menjaga daya saing damar Pesbar di pasar internasional. Karena itu, para petani damar di Pesbar juga diimbau untuk tetap menjaga kualitas hasil produksi serta tidak panik terhadap isu global yang berkembang.
“Petani kami minta tetap fokus pada kualitas produksi. Pemerintah akan terus memantau dan memberikan informasi perkembangan pasar. Jadi tidak perlu khawatir berlebihan, tetapi tetap waspada,” pungkasnya. (yayan/*)