BPBD Latih Siswa Siaga Bencana
BPBD Pesisir Barat gelar seminar dan simulasi penanganan bencana gempa bumi serta tsunami di SMAN 1 Bangkunat. Foto Dok --
BANGKUNAT - Dalam upaya menumbuhkan kesadaran serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana alam, SMA Negeri 1 Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar), menggelar kegiatan kurikuler bertajuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Selasa, 28 Oktober 2025. Kegiatan edukatif itu diikuti oleh 60 siswa dari kelas X, XI dan XII dengan rangkaian acara mencakup seminar dan simulasi penanganan bencana gempa bumi serta tsunami.
Acara dibuka oleh Wakil Kepala SMAN 1 Bangkunat, Lilik, di dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan SPAB merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam membentuk generasi tangguh dan sadar bencana. Ia menilai, pembekalan pengetahuan kebencanaan harus menjadi bagian integral dari pendidikan karakter di sekolah. Melalui kegiatan SPAB ini, pihaknya ingin seluruh siswa memiliki pemahaman tentang mitigasi bencana serta mampu bertindak cepat dan tepat saat terjadi situasi darurat.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga wadah untuk menanamkan karakter tangguh dan peduli terhadap keselamatan diri dan lingkungan,” kata dia.
Sebagai pemateri utama, SMAN 1 Bangkunat menghadirkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesbar. Materi disampaikan langsung oleh Arnold Malau, S.Sos., Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Kabid RR) BPBD Pesbar. Dalam paparannya, Arnold menekankan pentingnya penerapan konsep SPAB di lingkungan sekolah sebagai langkah nyata dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini.
Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi faktor kunci untuk meminimalkan risiko dan dampak dari bencana yang bisa terjadi kapan saja. Apalagi, wilayah Pesisir Barat dikenal memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami, mengingat letak geografisnya yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.
“Satuan Pendidikan Aman Bencana menitikberatkan pada tiga pilar utama, yakni fasilitas sekolah yang aman, manajemen bencana yang tangguh, serta pembelajaran kebencanaan yang terintegrasi. Harapannya, seluruh unsur sekolah dapat menjadi pelopor kesiapsiagaan di lingkungannya masing-masing,” jelas Arnold di hadapan peserta seminar.
Masih kata dia, pihaknya juga menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif SMAN 1 Bangkunat yang telah menggelar kegiatan edukatif tersebut. Menurutnya, pendidikan kebencanaan di sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang sadar risiko dan tangguh menghadapi kondisi darurat.
“Langkah SMAN 1 Bangkunat ini patut diapresiasi. Dengan memahami prosedur penyelamatan sejak dini, siswa tidak hanya siap melindungi diri sendiri, tetapi juga dapat membantu orang lain saat terjadi situasi darurat. Semoga kegiatan ini bisa menjadi contoh positif bagi sekolah-sekolah lain di Pesbar,” pungkasnya.
Sekedar diketahui, usai sesi penyampaian materi, kegiatan berlanjut dengan simulasi gempa bumi dan tsunami. Dalam sesi ini, para siswa diajarkan langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi guncangan di dalam kelas, seperti berlindung di bawah meja, menjauh dari kaca, serta mencari posisi aman di dekat struktur bangunan yang kokoh.
Siswa juga diarahkan untuk melakukan evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditentukan di lapangan sekolah. Petugas dari BPBD memandu jalannya simulasi secara langsung, memastikan seluruh peserta memahami prosedur evakuasi yang benar, tertib, dan cepat. Selama simulasi berlangsung, antusiasme siswa terlihat begitu tinggi. Mereka tampak aktif mengikuti setiap instruksi, sementara guru dan staf sekolah turut berperan menjaga ketertiban dan memastikan jalannya kegiatan berjalan lancar. (yayan/*)