Tiga Oknum TNI dan Seorang Polwan Diduga Memeras Sopir Travel di Gowa

Ilustrasi Pemerasan--

RADARLAMBARBACAKORAN.CO– Penanganan hukum terhadap dugaan pemerasan yang melibatkan tiga oknum TNI dan seorang anggota Polwan di Makassar terus bergulir. Keempat aparat tersebut diduga terlibat dalam pemerasan terhadap seorang sopir travel di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang kini tengah diperiksa secara intensif oleh aparat gabungan.

Kasus ini mencuat setelah sopir travel berusia 20 tahun melaporkan pemerasan yang dialaminya kepada pihak berwajib. Bermula dari temuan mobil travel yang tidak tertutup rapat, para oknum aparat diduga melakukan razia tidak resmi dan kemudian meminta uang damai kepada korban. Transaksi hingga puluhan juta rupiah disebut mengalir melalui rekening rekan dari seorang Polwan berinisial Bripda AZ.

Bripda AZ sendiri membantah keterlibatannya. Ia mengaku hanya memberikan nomor rekening temannya setelah dihubungi oleh salah satu anggota TNI yang dikenalinya. Uang Rp30 juta sempat masuk ke rekening tersebut sebelum kemudian diminta kembali oleh oknum TNI yang meminjamkan nama.

Polda Sulawesi Selatan tidak langsung menerima seluruh penjelasan yang disampaikan. Transaksi keuangan di rekening Bripda AZ dan rekannya kini ditelusuri lebih lanjut oleh Propam bekerja sama dengan pihak perbankan untuk memastikan alur dana dan peran masing-masing pihak.

Di sisi lain, Polisi Militer Kodam XIV/Hasanuddin telah mengamankan tiga anggota TNI yang diduga terlibat. Kodam memastikan proses hukum internal berjalan, sementara polisi menangani unsur anggota kepolisian serta tiga warga sipil yang juga masuk daftar terduga pelaku. Dari informasi awal, total ada tujuh orang yang diduga terlibat dalam aksi pemerasan ini.

Laporan ini semakin berkembang setelah muncul dugaan bahwa travel yang menjadi korban membawa sejumlah pekerja migran ilegal. Namun dugaan tersebut masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak kepolisian yang menangani kasus utamanya.

Pomdam XIV/Hasanuddin memastikan ketiga oknum TNI telah ditahan untuk kepentingan penyelidikan. Sementara itu, pihak kepolisian menegaskan pemeriksaan tidak akan berhenti sampai seluruh alur peristiwa dan keterlibatan para pihak terungkap secara terang.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan aparat lintas institusi dan menuntut penanganan transparan agar kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum tetap terjaga. (*/rinto)

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan