Rusia Klaim Serangan Drone Ukraina Tewaskan 24 Warga di Kherson Saat Tahun Baru
Kata-kata Presiden Vladimir Putin menyikapi proposal damai Rusia dan Ukraina usulan Donald Trump. Foto via REUTERS--
RADARLAMBARBACAKORAN.CO- Rusia mengeklaim serangan drone Ukraina menewaskan sedikitnya 24 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya di sebuah desa yang dikuasai Moskow di wilayah Kherson, Ukraina selatan. Insiden tersebut dilaporkan terjadi saat warga tengah merayakan malam Tahun Baru, di tengah meningkatnya eskalasi konflik meski upaya diplomasi disebut menunjukkan kemajuan.
Klaim itu disampaikan otoritas Rusia pada Kamis (1/1/2026). Pemerintah setempat yang ditunjuk Moskow menyebut tiga drone menghantam sebuah kafe dan hotel di kawasan resor Khorly, pesisir Laut Hitam. Salah satu drone diklaim membawa bahan pembakar yang memicu kebakaran besar di lokasi kejadian.
Hingga kini, otoritas Ukraina belum memberikan pernyataan resmi menanggapi tudingan tersebut. Laporan mengenai jumlah korban juga belum dapat diverifikasi secara independen karena wilayah itu berada di bawah kendali Rusia dengan akses informasi yang terbatas.
Pejabat tinggi Rusia mengecam keras dugaan serangan itu. Insiden di Kherson dinilai semakin memperkuat tekad Moskow untuk melanjutkan operasi militernya, yang telah berlangsung hampir empat tahun, serta dianggap sebagai pembenaran atas tujuan awal invasi ke Ukraina.
Klaim serangan di Kherson muncul tak lama setelah Rusia menuding Ukraina melakukan serangan drone jarak jauh ke salah satu kediaman resmi Presiden Vladimir Putin di wilayah barat laut Rusia. Pemerintah Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menilai narasi itu sebagai upaya mengganggu proses perundingan damai.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah mengakses sistem navigasi salah satu drone yang diklaim digunakan dalam serangan tersebut. Data itu, menurut Moskow, menunjukkan target akhir berupa kediaman Putin. Namun, bukti pendukung tidak dipublikasikan dan hanya disebut akan diserahkan kepada Amerika Serikat melalui jalur tertentu.
Sehari sebelumnya, Rusia juga merilis rekaman video yang diklaim memperlihatkan drone yang berhasil ditembak jatuh. Video tersebut tidak disertai keterangan waktu dan lokasi, sehingga kembali tidak dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, jalur diplomasi terus bergerak. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut kesepakatan damai telah mencapai sekitar 90 persen, meski masih menyisakan isu krusial, terutama terkait wilayah, yang akan menentukan masa depan perdamaian Ukraina dan Eropa.
Dari Amerika Serikat, utusan khusus perdamaian Ukraina menyatakan telah berlangsung pembicaraan intensif bersama para pejabat tinggi AS dan negara-negara Eropa guna membahas langkah konkret menuju perdamaian, termasuk jaminan keamanan dan mekanisme pencegahan konflik lanjutan.
Namun di lapangan, situasi militer tetap memanas. Rusia kembali melancarkan serangan drone ke wilayah Odesa yang menyasar infrastruktur sipil. Ukraina mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh sebagian besar drone, meski sejumlah lokasi tetap terdampak.
Rangkaian klaim serangan, bantahan, serta eskalasi perang drone ini menegaskan jurang lebar antara optimisme diplomatik dan realitas konflik di medan tempur. Meski pembicaraan damai terus bergulir, perang Rusia–Ukraina masih dibayangi kekerasan dan perang narasi yang berpotensi menghambat tercapainya perdamaian.