Rentetan Gempa Kecil Guncang Selat Lombok, Warga Bali Timur Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
BMKG Denpasar mencatat 59 gempa kecil di Selat Lombok. Warga Bali, terutama Karangasem, diimbau waspada terhadap potensi gempa besar. Foto ilustrasi--
RADARLAMBARBACAKORAN.CO- Aktivitas kegempaan di wilayah Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat, mengalami peningkatan signifikan setelah Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mencatat sebanyak 59 gempa bumi tektonik bermagnitudo kecil dalam kurun waktu beberapa hari. Kondisi ini membuat warga Bali, khususnya di wilayah timur seperti Kabupaten Karangasem, diminta meningkatkan kewaspadaan.
Puluhan gempa tersebut tercatat terjadi sejak 5 hingga 7 Januari 2026, dengan kejadian terakhir terpantau pada pagi hari sekitar pukul 07.47 WITA. Seluruh gempa berpusat di laut wilayah Selat Lombok dengan magnitudo berkisar antara 1,4 hingga 2,8 sehingga tidak dirasakan langsung oleh masyarakat di daratan Bali.
Meski tergolong gempa kecil dan belum menimbulkan dampak, BBMKG menilai rentetan aktivitas seismik ini perlu menjadi perhatian. Pasalnya, gempa berulang di lokasi yang relatif sama dalam waktu singkat bukanlah pola yang lazim terjadi. Kondisi tersebut berpotensi menjadi bagian dari dinamika awal sebelum terjadinya gempa yang lebih besar, meskipun hingga kini belum dapat dipastikan arahnya.
Hasil analisis BMKG menunjukkan rangkaian gempa tersebut termasuk gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut Selat Lombok. Episenter yang berada di laut dan cukup jauh dari daratan menjadi alasan mengapa getarannya tidak dirasakan oleh warga Bali.
BBMKG menegaskan bahwa gempa bumi hingga saat ini belum bisa diprediksi secara pasti. Oleh karena itu, informasi mengenai peningkatan aktivitas gempa disampaikan sebagai langkah antisipasi agar masyarakat lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk, terutama di wilayah Bali bagian timur yang dinilai paling berpotensi terdampak jika terjadi gempa berkekuatan lebih besar.
Selain pemantauan intensif, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemahaman mitigasi bencana. Langkah-langkah penyelamatan mandiri seperti melindungi kepala saat gempa terasa kuat, menjauhi kaca dan bangunan rapuh, bergerak ke area terbuka, serta segera menjauhi wilayah pantai perlu dipahami dan diterapkan untuk mengurangi risiko korban jiwa.
BBMKG berharap rentetan gempa yang terjadi di Selat Lombok ini hanya merupakan aktivitas gempa kecil dan tidak berkembang menjadi gempa besar. Namun demikian, kewaspadaan tetap menjadi kunci mengingat dinamika bumi yang terus bergerak dan sulit diprediksi. (*/rinto)