Trump Batalkan Serangan Militer ke Iran, Senjata Rahasia AS Tetap Jadi Sorotan
Donald Trump--
RADARLAMBARBACAKORAN.CO- Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah mempertimbangkan perkembangan jalur diplomasi, kendala logistik, serta penolakan kuat dari sejumlah sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Keputusan tersebut diambil di tengah situasi yang sempat dinilai berada pada titik paling genting.
Laporan media internasional menyebutkan bahwa pada periode tersebut militer Amerika Serikat telah berada dalam posisi siaga tinggi dan siap melancarkan operasi dalam waktu singkat. Sejumlah negara di Timur Tengah bahkan memprediksi serangan akan dilakukan segera setelah pertemuan tingkat tinggi pada hari Selasa. Namun hingga waktu yang diperkirakan, perintah resmi dari Gedung Putih tak kunjung keluar.
Meski rencana serangan akhirnya dibatalkan, para analis politik dan militer global tetap menyoroti potensi penggunaan senjata rahasia Amerika Serikat apabila konflik bersenjata dengan Iran benar-benar terjadi. Hal ini tidak terlepas dari rekam jejak pemerintahan Trump yang sebelumnya mengklaim keberhasilan operasi militer terhadap fasilitas nuklir Iran.
Pada tahun sebelumnya, Amerika Serikat melancarkan pengeboman terhadap dua instalasi nuklir utama Iran menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 yang menjatuhkan belasan bom berdaya hancur tinggi. Operasi tersebut diklaim berlangsung tanpa korban jiwa maupun kerugian di pihak Amerika Serikat.
Ancaman serangan kembali mencuat seiring pernyataan Trump yang menyatakan dukungan terhadap ratusan ribu warga Iran yang melakukan demonstrasi menentang pemerintahan di Teheran. Namun, para pengamat menilai bahwa skema serangan kali ini tidak akan berfokus pada fasilitas nuklir semata, melainkan menyasar pusat kekuasaan dan instrumen keamanan negara.
Target yang diperkirakan menjadi sasaran meliputi pusat komando Korps Garda Revolusi Iran, pasukan Basij, serta kepolisian Iran yang selama ini berperan dalam meredam aksi demonstrasi. Permasalahannya, sebagian besar fasilitas tersebut berada di kawasan padat penduduk sehingga risiko korban sipil dinilai sangat tinggi dan berpotensi menimbulkan dampak politik yang merugikan Amerika Serikat.
Sejumlah analis militer menekankan pentingnya presisi dalam setiap opsi serangan. Kesalahan sasaran atau jatuhnya korban sipil dikhawatirkan justru akan mengubah persepsi publik Iran terhadap Amerika Serikat, dari pihak yang dianggap mendukung kebebasan menjadi kekuatan asing yang menekan.
Jika opsi militer benar-benar diambil, jenis senjata yang digunakan diperkirakan berbeda dari operasi sebelumnya. Rudal jelajah Tomahawk disebut menjadi salah satu opsi utama karena akurasinya tinggi dan dapat diluncurkan dari kapal perang maupun kapal selam dari jarak jauh, sehingga meminimalkan risiko bagi pasukan Amerika Serikat. Kemampuan terbang rendah juga membuat rudal ini sulit terdeteksi radar.
Selain itu, Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM) juga dinilai berpotensi digunakan. Rudal ini memiliki jangkauan hingga 1.000 kilometer dan mampu diluncurkan dari berbagai pesawat tempur dan pengebom Amerika Serikat, memungkinkan serangan dilakukan tanpa harus memasuki wilayah udara Iran. Penggunaan drone bersenjata juga dipandang sebagai alternatif efektif karena memungkinkan serangan presisi tanpa mempertaruhkan nyawa pilot.
Pembatalan rencana serangan tersebut disebut turut dipengaruhi oleh komunikasi diplomatik rahasia antara Washington dan Teheran. Dalam pesan yang diterima utusan Amerika Serikat, Iran dilaporkan berkomitmen menghentikan aksi pembunuhan serta menunda eksekusi terhadap demonstran.
Tekanan dari sekutu regional juga menjadi faktor penting. Israel dan Arab Saudi sama-sama menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan. Meski demikian, Trump tetap menyuarakan dukungan terhadap demonstran Iran dan mengkritik keras respons pemerintah Teheran terhadap gelombang protes yang dipicu tekanan ekonomi sejak akhir Desember.