Pemkab Imbau Perayaan Nataru Minim Sampah
Foto Kantor Pemkab Pesbar--
RADARLAMBAR.BACAKORAN.CO - Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar) menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan mengeluarkan surat edaran tentang imbauan pelaksanaan perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) yang ramah lingkungan dan minim sampah.
Kebijakan itu ditujukan kepada seluruh perangkat daerah, instansi vertikal, camat, hingga pelaku usaha serta penyelenggara kegiatan di wilayah Pesbar, sebagai langkah antisipatif terhadap potensi lonjakan timbulan sampah selama momentum perayaan akhir tahun.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pesbar, Rochmad, S.Sos., M.M., melalui Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Ns. Erido Riska, S.Kep., M.M., menjelaskan bahwa surat edaran tersebut merupakan bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam mendukung upaya pengendalian sampah, terutama pada momen perayaan besar yang identik dengan meningkatnya aktivitas masyarakat.
“Perayaan Natal dan Tahun Baru biasanya diikuti dengan peningkatan mobilitas dan aktivitas masyarakat, baik di ruang publik, pusat perbelanjaan, tempat ibadah, maupun kawasan wisata,” katanya.
Kondisi ini, kata dia, berdampak langsung pada meningkatnya volume sampah. Karena itu, Pemkab Pesbar mengimbau agar seluruh pihak dapat menerapkan prinsip minim sampah dalam setiap kegiatan. Kebijakan Pemkab Pesbar tersebut mengacu pada Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SE.13 Tahun 2025 tentang Pengendalian Sampah pada Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
“Sebagai tindak lanjut dari kebijakan nasional tersebut, Pemkab Pesbar kemudian menerbitkan surat edaran resmi dengan Nomor: 600.4.15/5.12/IV.10/2025 tentang Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 Minim Sampah,” jelasnya.
Menurutnya, dalam surat edaran tersebut pemerintah daerah meminta agar pelaksanaan seluruh rangkaian perayaan Natal dan Tahun Baru menggunakan dekorasi serta atribut yang ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali. Penggunaan bahan sekali pakai, khususnya plastik, diminta untuk dikurangi secara signifikan guna menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
“Dekorasi sebaiknya tidak sekali pakai. Kalau bisa digunakan kembali, tentu itu jauh lebih baik dan lebih ramah lingkungan. Begitu juga dengan plastik sekali pakai, mari kita kurangi semaksimal mungkin dalam setiap kegiatan,” katanya.
Selain itu, kata dia, setiap panitia pelaksana kegiatan perayaan Natal dan Tahun Baru diwajibkan menyediakan sarana pengelolaan sampah dengan konsep minim sampah atau less waste event. Konsep ini diharapkan mampu mendorong pengelolaan sampah yang lebih terarah, mulai dari pemilahan hingga pengurangan sampah sejak dari sumbernya, sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar.
“Panitia harus menyiapkan tempat sampah terpilah dan memastikan sampah yang dihasilkan tidak bercampur. Ini bagian dari upaya kita menjaga kebersihan daerah, terutama di pusat-pusat keramaian yang biasanya dipadati masyarakat selama libur Nataru,” tegasnya.
Tidak hanya panitia kegiatan, masyarakat juga diimbau untuk berperan aktif dengan melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber. Beberapa langkah sederhana namun berdampak besar yang dianjurkan antara lain menggunakan peralatan makan dan minum yang dapat digunakan kembali, membawa tas belanja sendiri saat berbelanja, serta berbelanja sesuai kebutuhan agar tidak menghasilkan sampah berlebih.
“Kami mengajak masyarakat untuk membiasakan diri membawa tumbler, kotak makan, dan tas belanja sendiri. Kebiasaan kecil ini, kalau dilakukan bersama-sama oleh banyak orang, akan memberikan dampak besar bagi pengurangan sampah dan kelestarian lingkungan,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya sesuai dengan jenisnya. Diharapkan tidak ada lagi kebiasaan membuang sampah sembarangan, terutama di ruang publik, kawasan wisata, dan fasilitas umum yang diprediksi akan dipadati pengunjung selama libur Natal dan Tahun Baru. Keberhasilan program perayaan minim sampah ini sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi seluruh elemen, baik pemerintah, pelaku usaha, panitia kegiatan, dan masyarakat umum.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama. Kalau semua ikut peduli dan berpartisipasi aktif, Pesbar bisa tetap bersih dan nyaman meskipun aktivitas masyarakat meningkat selama libur Nataru,” tandasnya. (yayan/*)