RADARLAMBAR.BACAKORAN.CO - Kabut tipis menyelimuti padang savana, sementara kicau burung air memecah kesunyian dan sinar pertama matahari memantulkan cahaya tembaga pada rumput ilalang yang berkilau. Begitulah suasana pagi di Taman Nasional Wasur, kawasan konservasi yang membentang di ujung timur Indonesia.
Luasnya bentang alam dan keberagaman hayati membuat wilayah ini sering dijuluki sebagai “Serengeti-nya Indonesia”, sebuah perbandingan yang mencerminkan keindahan savana serta kekayaan ekosistem rawa yang dimilikinya.
Sebagai salah satu destinasi unggulan di Papua Selatan, Taman Nasional Wasur bukan hanya memanjakan mata dengan lanskap liar, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga dari masyarakat adat Marind. Komunitas ini telah lama hidup berdampingan dengan alam Trans-Fly, menjaga ritme kehidupan yang ditentukan oleh pasang surut air, angin, serta musim yang datang silih berganti.
Secara administratif, Taman Nasional Wasur berada di Kabupaten Merauke dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Kawasan ini merupakan bagian dari ekoregion Trans-Fly, sabuk savana, rawa, dan hutan mangrove yang terbentang di selatan Pulau Nugini. Merauke menjadi pintu masuk utama dengan akses sekitar 70–90 menit menuju beberapa gerbang taman, seperti Wasur, Yanggandur, Rawa Biru, hingga Sota yang sekaligus menjadi pos perbatasan negara.
Untuk mencapai Merauke, wisatawan dapat terbang menuju Bandara Mopah (MKQ). Umumnya, penerbangan dilakukan melalui Jayapura, Makassar, atau Timika, tergantung maskapai dan musim penerbangan. Dari bandara, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan darat. Saat musim hujan, jalanan licin dan berlumpur sehingga kendaraan berpenggerak empat roda sangat disarankan. Sementara pada musim kering, mobil dua roda dengan ground clearance tinggi masih cukup memadai.
Setiap pengunjung wajib melapor di pos Balai Taman Nasional Wasur untuk registrasi dan pembelian tiket masuk. Simpan bukti karcis dan ikuti jalur resmi yang telah ditentukan. Demi pengalaman yang lebih mendalam, kehadiran pemandu lokal sangat dianjurkan. Warga dari kampung Wasur, Yanggandur, maupun Rawa Biru mengenal baik jalur satwa, titik pengamatan burung, hingga aturan adat yang perlu dipatuhi. Jika ingin mengoperasikan drone atau melakukan pemotretan di area sensitif, izin khusus dari pengelola taman dan aparat setempat mutlak diperlukan.
Hamparan savana menjadi ikon utama Wasur. Pohon eucalyptus dan melaleuca berdiri jarang di antara lautan ilalang yang warnanya berubah mengikuti musim: kuning keemasan saat kemarau dan hijau menyegarkan kala hujan tiba. Di tengah savana terdapat cekungan-cekungan yang menjadi habitat sementara bagi burung air.
Rawa Biru menjadi jantung pengalaman wisata. Airnya tenang, dihiasi teratai yang bermekaran, sementara perahu kecil masyarakat lokal melintas perlahan. Kawanan bangau dan kuntul kerap hinggap, menghadirkan panorama layaknya lukisan alam. Sungai-sungai kecil yang mengalir dari rawa kemudian bermuara ke hutan mangrove, rumah bagi ikan, udang, dan beragam jenis burung.
Di tepian, hutan dataran rendah berpadu dengan kebun sagu yang menjadi sumber pangan pokok masyarakat Marind. Peralihan lanskap dari savana menuju hutan rimbun menghadirkan nuansa seperti babak berbeda dalam sebuah film dokumenter alam liar.
Bagi pengamat burung, Wasur adalah surga. Pada musim migrasi, dataran basah dipenuhi burung pantai dari jalur Asia–Australia seperti gajahan, trinil, dan kedidi. Selain itu, pelikan Australia, ibis, bangau, hingga rajawali juga mudah ditemui. Sepanjang tahun, Black-necked Stork atau bangau leher hitam menjadi ikon khas kawasan ini.
Di padang savana, keberadaan wallaby menjadi daya tarik tersendiri. Mamalia yang mirip kanguru ini sering terlihat melintas cepat menjelang senja. Tak jarang, rusa timor, babi hutan, dan kuskus juga muncul di sekitar hutan tepian. Sementara itu, rawa dan muara dihuni buaya muara yang kerap mengintai diam-diam di permukaan air.
Biawak terlihat berjemur di batang kayu, dan suara katak pohon akan terdengar riuh selepas hujan. Mengamati satwa di Wasur membutuhkan kesabaran sekaligus kehati-hatian, karena mendekat terlalu jauh dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.
Wasur memiliki dua wajah berbeda. Pada musim kemarau antara Mei hingga Oktober, savana berwarna keemasan, akses lebih mudah, dan pemandangan matahari terbit maupun terbenam tampak dramatis. Sebaliknya, musim hujan pada November hingga April menghadirkan rawa penuh air dan aktivitas birdwatching yang spektakuler, meski beberapa jalur menjadi sulit dilalui.
Waktu terbaik untuk beraktivitas adalah pagi hari sekitar pukul 06.00–09.00 saat burung sedang aktif dan cahaya masih lembut. Menjelang sore, antara 16.30–18.30, savana menampilkan siluet indah dengan hembusan angin sejuk.
Untuk perjalanan singkat, itinerary dua hari satu malam sudah cukup memberi gambaran Wasur, mulai dari Rawa Biru hingga birdwatching di Yanggandur. Namun, bagi yang ingin pengalaman lebih mendalam, tiga hari dua malam akan memberikan kesempatan menjelajahi savana, rawa, hingga hutan mangrove, sekaligus menyelami budaya Marind melalui cerita tetua kampung tentang pangan sagu dan kearifan adat.