Betutu Bali, Warisan Cita Rasa Majapahit

Banyak yang mengatakan bahwa Betutu adalah kuliner yang mendapat pengaruh budaya Majapahit. -Foto ; Net.-

RADARLAMBAR.BACAKORAN.CO - Hari raya di Nusantara selalu identik dengan kehadiran kuliner khas yang menjadi pelengkap ritual keagamaan maupun tradisi adat. Bagi umat Hindu di Bali, momentum Hari Raya Nyepi tidak hanya bermakna spiritual melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian, tetapi juga menghadirkan sajian istimewa yang sudah menjadi bagian dari warisan budaya. Salah satu hidangan yang selalu hadir dalam perayaan tersebut adalah Betutu, masakan berbahan utama ayam atau bebek yang diolah dengan cara tradisional.

Nyepi, yang diperingati bersamaan dengan Tahun Baru Saka, menjadi hari suci umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri serta penyucian alam manusia dan alam semesta. Pada hari itu, umat Hindu menahan diri dari empat aktivitas utama sesuai ajaran Catur Brata. Selain ritual keagamaan, umat Hindu juga mempersembahkan makanan khusus sebagai sesajen.

Di antara berbagai hidangan tersebut, Betutu menempati posisi penting karena tidak hanya disajikan saat Nyepi, tetapi juga dalam berbagai upacara adat lain, seperti piodalan di pura, otonan atau peringatan kelahiran, hingga upacara perkawinan.

Menariknya, istilah “Betutu” sesungguhnya bukan nama dari jenis makanan, melainkan metode pengolahan. Kata ini berasal dari bahasa Bali, yaitu “be” yang berarti daging, dan “tutu” yang merujuk pada teknik memasak dengan cara merebus daging hingga airnya menyusut namun tidak sampai kering. Proses ini kemudian berkembang menjadi salah satu ciri khas kuliner Bali yang sarat makna dan tradisi.

Cara memasak Betutu terbilang unik. Seekor ayam atau bebek utuh biasanya dipenuhi dengan aneka rempah, lalu dibungkus menggunakan pelepah pinang. Setelah dibungkus rapat, daging tersebut dimasukkan ke dalam lubang tanah yang telah dipanaskan.

Selanjutnya, hidangan itu ditimbun dengan sekam padi yang dibakar selama delapan hingga dua belas jam. Ada pula yang menggunakan arang kayu untuk menjaga bara api tetap stabil. Proses pemanggangan alami ini membuat daging matang perlahan dengan aroma khas yang sulit ditandingi.

Sejarawan menilai teknik pengolahan Betutu memiliki kaitan erat dengan tradisi kuliner pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-16. Jejak pengaruh budaya Jawa kuno diyakini menjadi cikal bakal berkembangnya metode memasak khas Bali ini. Meski begitu, catatan sejarah lokal menyebutkan bahwa pembuat Betutu pertama adalah Ni Wayan Tempeh atau dikenal dengan sebutan Men Tempeh dari Abiansi, Gianyar, pada tahun 1976.

Kini, Betutu tidak hanya dapat ditemukan di Bali, melainkan juga hadir di berbagai kota besar Indonesia. Keistimewaan rasanya bahkan menarik perhatian wisatawan mancanegara. Tak sedikit pelancong yang berkunjung ke Bali menyempatkan diri mencicipi Betutu sebagai bagian dari pengalaman wisata kuliner mereka. Hidangan ini menjadi bukti bahwa kekayaan kuliner Nusantara mampu menembus sekat budaya dan memikat lidah siapa pun yang mencobanya.

Racikan ini terdiri dari 15 jenis rempah Nusantara, antara lain bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kencur, kunyit, cabai rawit, kemiri, ketumbar, daun salam, serai, jeruk limau, gula merah, terasi, dan minyak kelapa.

Semua bahan tersebut dihaluskan, lalu dimasukkan ke dalam rongga perut ayam atau bebek, sekaligus dilumuri ke seluruh permukaan tubuh daging. Saat proses pemanggangan berlangsung, bumbu menyatu dengan lemak unggas yang meleleh, menghasilkan cita rasa gurih, pedas, sekaligus beraroma kuat.

Kombinasi teknik memasak tradisional dan racikan bumbu autentik menjadikan Betutu bukan sekadar hidangan, melainkan representasi budaya Bali yang penuh filosofi. Setiap suapan menghadirkan cerita panjang tentang perjalanan kuliner yang diwariskan turun-temurun, dari masa Majapahit hingga menjadi bagian identitas masyarakat Bali modern.

Keunikan dan nilai historis Betutu akhirnya mendapat pengakuan resmi. Pada tahun 2017, pemerintah menetapkan Betutu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Penetapan ini menjadi upaya pelestarian sekaligus pengingat bahwa kuliner bukan hanya soal rasa, melainkan juga bagian dari identitas bangsa.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Bali, mencicipi Betutu adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Hidangan ini bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana masyarakat Bali menjaga tradisi melalui makanan. Betutu seolah menjadi jembatan yang menghubungkan ritual keagamaan, sejarah panjang, hingga daya tarik pariwisata yang terus berkembang.

Dengan segala keistimewaannya, Betutu layak disebut sebagai salah satu mahakarya kuliner Nusantara. Ia bukan sekadar makanan, melainkan wujud nyata kearifan lokal yang berhasil bertahan lintas zaman. Saat daging yang lembut berpadu dengan aroma rempah yang meresap, sesungguhnya kita sedang menyantap sepotong sejarah dan tradisi Bali yang tak ternilai harganya. (*/yayan)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan