Rp108 Juta dari Patungan Warga, Jalan Padangdalom - Sukarame Mulus Tanpa Bantuan Pemerintah

Akses jalan Padang Dalom dan Sukarame, Kecamatan Balik Bukit sudah dibuka setelah beberapa pekan dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Foto Dok--
BALIKBUKIT – Setelah delapan tahun menunggu tanpa kepastian, warga Pekon Padang Dalom dan Sukarame, Kecamatan Balik Bukit, akhirnya membuktikan bahwa pembangunan tak selalu harus menunggu anggaran pemerintah. Melalui swadaya, masyarakat berhasil memperbaiki jalan penghubung vital sepanjang 600 meter dengan kualitas cor rigid, bernilai total Rp108 juta.
Peresmian jalan yang sudah bisa dilalui kendaraan roda empat sejak Kamis, 28 Agustus 2025, disambut gembira warga. Jalan tanjakan Sukarame ini merupakan akses utama menuju sekolah, fasilitas kesehatan, hingga jalur transportasi hasil pertanian. Selama bertahun-tahun, usulan perbaikannya hanya berhenti di atas kertas sejak diajukan tahun 2017.
Dana pembangunan terkumpul murni dari kantong masyarakat, ditambah dukungan sejumlah donatur. Selain uang tunai Rp108 juta, material berupa 288 sak semen, 35 kubik pasir, dan 4,5 kubik batu split ikut menopang pekerjaan. Selama 25 hari, warga bergotong royong memperbaiki jalan, 121 meter dibangun dengan cor rigid setebal 15 centimeter dan lebar 5 meter, sementara 479 meter lainnya direhab ringan.
Tak berhenti di situ, warga juga sedang memasang delapan titik lampu jalan sepanjang 500 meter demi menjamin kenyamanan dan keselamatan pengendara. “Alhamdulillah, perbaikan jalan ini selesai 100 persen. Tinggal pemasangan lampu jalan yang masih berjalan. Semua ini berkat kerja sama warga, relawan, dan bantuan para donatur,” ungkap Qilta Hasan, tokoh penggerak swadaya yang akrab disapa Pak Sukil.
Bagi masyarakat, keberhasilan ini bukan sekadar infrastruktur yang terbangun, tetapi bukti bahwa kekuatan gotong royong bisa mengalahkan lamanya birokrasi. “Kami berterima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu. Semoga jalan ini bermanfaat dan mari sama-sama kita jaga agar awet,” lanjut dia.
Sejumlah warga mengaku bangga sekaligus menyayangkan lambatnya perhatian pemerintah. “Kalau masyarakat bisa membangun dengan kualitas bagus melalui swadaya, seharusnya pemerintah lebih cepat merespons usulan warga yang sudah bertahun-tahun disampaikan,” kata Rangga, seorang pengendara yang rutin melintas.
Pembangunan berbasis swadaya ini menjadi pelajaran penting bahwa masyarakat tidak pasif, melainkan mampu mengambil inisiatif ketika kebutuhan mendesak. Namun, warga tetap berharap pemerintah hadir untuk mempercepat pemerataan pembangunan.
“Kami hanya ingin pemerintah melihat keseriusan masyarakat. Jangan biarkan akses vital terabaikan terlalu lama. Kalau gotong royong bisa menghasilkan jalan bagus, bayangkan kalau didukung pemerintah, pasti manfaatnya lebih besar,” tutupnya. (edi/lusiana)