RADARLAMBAR.BACAKORAN.CO - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan dimulainya tahap Front End Engineering and Design (FEED) untuk proyek Blok Gas Masela. Proyek raksasa yang dikenal juga dengan nama LNG Abadi ini menelan investasi mencapai US$20,94 miliar atau sekitar Rp342,21 triliun dengan asumsi kurs Rp16.342 per dolar AS.
Operator utama proyek ini adalah perusahaan migas asal Jepang, INPEX, yang mengelola melalui anak usahanya INPEX Masela Ltd. Proyek yang berlokasi di Laut Arafura, Maluku ini merupakan salah satu proyek strategis nasional dengan cadangan gas sangat besar dan dipandang sebagai penopang ketahanan energi Indonesia di masa depan.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa proyek Masela diproyeksikan menyerap sekitar 12.600 tenaga kerja pada fase pengembangan, dengan prioritas pada perekrutan pekerja lokal. Langkah ini diharapkan mampu memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi kawasan, khususnya bagi masyarakat Maluku. Menurut Yuliot, keberadaan Blok Masela tidak hanya akan menciptakan lapangan pekerjaan, melainkan juga mendukung target pemerataan pembangunan di wilayah timur Indonesia yang selama ini masih tertinggal dalam infrastruktur dan industrialisasi.
Selain membuka peluang kerja, pemerintah menilai proyek gas ini akan memperkuat strategi transisi energi nasional. Gas alam diposisikan sebagai energi fosil yang lebih ramah lingkungan dibandingkan batu bara dan minyak, sehingga produksi dari Masela diharapkan menjadi jembatan menuju pencapaian target Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Dalam rancangan teknisnya, proyek ini akan dilengkapi dengan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk menekan emisi karbon dari aktivitas produksi.
Yuliot menambahkan, pemerintah menargetkan Blok Masela sudah mulai berproduksi penuh pada 2029. Dengan demikian, Indonesia bisa memperoleh tambahan pasokan gas dalam negeri sekaligus membuka peluang ekspor ke sejumlah negara di Asia Timur dan Asia Tenggara. INPEX sendiri telah memetakan lima negara calon pembeli utama, yaitu Malaysia, Taiwan, Jepang, Tiongkok, dan Thailand.
Presiden dan CEO INPEX Corporation, Takayuki Ueda, memproyeksikan kontribusi Blok Masela terhadap perekonomian Indonesia mencapai US$150 miliar atau sekitar Rp2.454 triliun sepanjang masa operasional 30 tahun. Selain itu, lapangan kerja yang tercipta sepanjang periode tersebut diperkirakan mencapai 70 ribu orang. Angka ini mencerminkan skala dampak ekonomi yang signifikan, tidak hanya dari sisi tenaga kerja langsung tetapi juga dari industri turunan dan sektor pendukung lainnya, mulai dari logistik, konstruksi, perhotelan, hingga jasa transportasi.
Bagi pemerintah Indonesia, keberadaan Blok Masela menjadi simbol penting strategi energi jangka panjang. Proyek ini dipandang tidak hanya sebagai sumber devisa baru, tetapi juga bagian dari kebijakan untuk menyeimbangkan ketergantungan energi fosil dengan kebutuhan energi bersih.
Dengan investasi yang mencapai ratusan triliun rupiah, Blok Masela diproyeksikan menjadi salah satu proyek energi terbesar di Asia Tenggara dalam satu dekade ke depan. Realisasi proyek ini akan menentukan seberapa jauh Indonesia mampu menarik investasi migas kelas dunia sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya alam untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. (*/edi)