Harga Kopi Masih Tinggi, Petani Optimistis Sambut September

Petani memanfaatkan momen harga tinggi penjualan kopi dengan melakukan penggilingan. Foto Rinto--
WAYTENONG - Menutup akhir bulan Agustus, petani kopi di Kabupaten Lampung Barat masih bisa bernapas lega. Pasalnya, harga jual kopi robusta tetap stabil di kisaran Rp65.000 hingga Rp66.000 per kilogram.
Angka ini terbilang tinggi dan cukup menggembirakan bagi para petani yang selama ini menggantungkan hidup dari komoditas unggulan tersebut.
Stabilnya harga sejak dua pekan terakhir dinilai menjadi sinyal positif menjelang awal September. Sejumlah petani bahkan optimistis harga jual biji hitam aromatik ini akan kembali merangkak naik dan bisa menembus angka psikologis Rp70.000 per kilogram—sebagaimana pernah terjadi pada awal tahun 2024 lalu.
Arif Hendarson, petani kopi asal Kecamatan Waytenong, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga kopi yang mulai terasa pada pertengahan Agustus ini sebenarnya datang lebih cepat dari perkiraan.
“Kami memprediksi harga naik baru akan terjadi di awal September. Tapi ternyata, pertengahan Agustus sudah menunjukkan peningkatan. Ini tentu kabar baik,” ujarnya, Minggu (31/8).
Ia menambahkan, stabilitas harga saat ini sangat penting karena pada bulan Juli lalu harga kopi sempat anjlok tajam hingga menyentuh angka Rp42.000 per kilogram untuk kualitas super. Kondisi tersebut sempat membuat petani was-was, terutama mereka yang belum menjual hasil panen utama. “Dengan harga sekarang, kami sebagai petani kembali semangat. Harapan kami, harga bisa bertahan di atas Rp60.000 per kilogram dalam beberapa pekan ke depan,” imbuhnya
Dengan tren positif ini, para petani berharap dukungan dari pemerintah tidak berhenti hanya pada sisi produksi, tetapi juga dalam hal akses pasar dan kestabilan harga jangka panjang. “Selama ini, petani hanya bisa mengandalkan naluri pasar dan informasi dari tengkulak. Kami harap ada kebijakan yang bisa bantu petani agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi liar,” pungkas Arif
Sementara itu, Selamat Kanitzu, seorang supplier kopi asal Pekon Hujung, Kecamatan Belalau, juga membenarkan tren positif tersebut. Ia mengatakan bahwa banyak petani kini memanfaatkan momen kenaikan harga untuk menggiling dan menjual hasil panen yang selama ini disimpan. “Dengan harga di atas Rp60.000, petani mulai aktif menjual kembali stok yang sempat mereka tahan. Ini momen yang harus dimaksimalkan. Kalau bisa, jual saat harga sedang tinggi,” jelasnya.
Menurut Selamat, fluktuasi harga kopi memang hal yang lumrah. Harga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, permintaan pasar ekspor, hingga kondisi di negara-negara penghasil kopi lainnya seperti Brasil, Vietnam, dan Kolombia. “Kita tidak bisa prediksi harga akan bertahan berapa lama. Jadi, saat harga naik, petani harus cermat. Jangan terlalu lama menyimpan stok jika tujuannya memang untuk jual,” tambahnya. (rinto/lusiana).